BAYI-BAYI YANG LAHIR DARI RAHIM KANTONG PLASTIK
------------------------
Akhirnya kuterima juga pekerjaan sebagai Penjaga Klinik di pinggiran kota. Aku harus berpikir realistis, daripada terus-menerus menganggur dan kenyataan bahwa aku hanya lulusan SMP. Tugasku persis seperti tukang kebon lainnya; membersihkan ini-itu, menyiapkan ini-itu atau disuruh ini-itu. Pokoknya apa yang diperintahkan Sang Majikan. Termasuk tugas khusus yaitu membuang sesuatu dalam bungkusan kantong plastik hitam.
Tugas kadang-kadang tapi cukup menguntungkan karena aku mendapat upah Rp 20.000,- per kantong plastik. Hal yang sangat wajar, karena tempat pembuangan yang ditentukan Sang Majikan sangat jauh letaknya. Sebuah lahan kosong berpagar tembok batako yang hanya berisi belukar, sampah dan sebuah rumah tua yang tinggal menunggu saat-saat keruntuhan. Gelap dan Seram, apalagi sesuai dengan perintah Sang Majikan aku harus membuangnya pada tengah malam. Maka begitu sampai, aku bergegas melemparnya ke dekat rumah itu dan kemudian cepat berlalu.
Awalnya kukira bungkusan itu adalah benda persembahan untuk penunggu yang mbahurekso rumah tua itu. Jadi aku tak pernah berani melongok isinya. Takut kualat. Aku hanya mereka-reka dengan menyentuhnya. Lunak seperti seonggok daging.
Pada pembuangan yang ketiga kali, aku mulai sedikit curiga. Bukan pada isi kantong plastik tetapi pada suara tangis bayi dan lolongan Serigala dari dalam rumah tua itu. Bulu kudukku merinding. Anak siapakah gerangan? Tempat ini sangat jauh dari perkampungan penduduk. Mungkin anak setan! Atau hanya karena rasa takut hingga aku membayangkan yang tidak-tidak. Tetapi pada pembuangan yang keempat, suara tangis bayi itu terdengar lagi. Apakah masih ada pemilik rumah? Tapi tak ada secercahpun nyala lampu.
Mungkinkah Danyang penunggu rumah sedang memiliki seorang bayi? Ya! siapa lagi yang sudi hidup dalam kegelapan. Apakah ini laku pesugihan yang dilakukan Majikanku? Atau jangan-jangan dia pemuja setan. Hii.. Aku segera berlari kencang.
Tapi tak selamanya keberuntungan bisa berpihak. Pada pembuangan yang kelima, setelah aku melempar bungkusan itu dan hendak berlalu... tiba-tiba dari langit yang memang sudah hitam pekat dikirimkan kilat dan geledek yang bersahut-sahutan. Bertambah sial ketika dari dalam rumah terdengar lagi suara tangis bayi dan lolongan panjang serigala. Gila! datang dari mana binatang hutan itu?
Byur... hujan turun lebat tak terkira. Berlari pulang rasanya sudah tak mungkin. Satu-satunya tempat berteduh jelas rumah tua itu. Aku tertegun sejenak... dan entah datang dari mana, rasa penasaran dan udara dingin mengalahkan ketakutanku. Aku berlari mendekati rumah itu. Suara tangis bayi masih terdengar. Persetan! Dengan mudah aku bisa masuk ke dalam. Daun pintu rumah memang sudah tidak ada. Gelap. Kudengar suara tetes-tetes air... pasti datangnya dari atap yang bocor. Suara tangis bayi semakin terdengar, mungkin dari ruang tengah.
Kilat kembali datang. Cahayanya menerangi bumi sampai ke sudut-sudut kegelapan. Aku berjingkrat kaget. Kuelus dadaku. Huh.... Cahaya kilat datang lagi... tangis bayi terdengar semakin kencang. Aku menggosok-gosok mataku... meyakinkan penglihatan. Dalam sekejap terang itu, dari ruang tengah kulihat pemandangan yang menakjubkan. Pada kilatan-kilatan berikutnya, semuanya menjadi jelas terekam.
Edan! Tiga bayi, seorang wanita, dua ekor Serigala dan beberapa anak kecil. Kutampar pipiku. Sakit juga... berarti aku sama sekali tidak bermimpi. Aku semakin mendekati ruang tengah. Kilat dan geledek semakin sering bersahutan. Itu sangat membantu aku untuk melihat segalanya. Wanita itu terlihat sedang menyusui seorang bayi. Pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan dan dari wajahnya yang kotor terlihat jelas sebuah luka bekas cakaran di sebelah pipinya. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahku. Pandangan kami beradu. Mati aku! Kuntilanakah dia? Tapi kurasa bukan, kedua kakinya tampak menempel di tanah. Aku tak bisa berbuat apa-apa, sampai tiba-tiba dia tersenyum dan menggangguk, seperti mempersilakan aku.
Beberapa anak kecil terlelap di lantai berselimut koran. Damai seperti tak menghiraukan hujan deras dan kilat, semuanya seolah menjadi selimut yang memperpanjang mimpi. Belasan orang! berhimpitan dan berangkulan seolah membagi kehangatan. Beberapa ekor tikus got berseliweran di antara tubuh-tubuh mereka. Ketika kuperhatikan wajah polos mereka, kulihat ada bekas cakaran di pipi.
Pemandangan yang lebih menakjubkan terhampar di depan wanita itu. Seorang bayi berbaring di lantai di tunggui serigala. Lidah serigala menjulur, mulutnya mengangga, air liurnya menetes dan jatuh tepat di mulut bayi. Bayi itu tertidur lelap, tapi mulutnya tampak mengecap-ngecap. Bayi di sebelahnya sedang mempermainkan puting serigala yang satu lagi. Tangan-tangan kecilnya memukul puting susu itu dan sesekali mulutnya mengulum sambil menyedot susu. Busyet!
Aku tertegun melihat pemandangan itu. Pikiranku tak sempat bertanya-tanya, tak berani mereka-reka... barangkali memang sudah beku. Serigala yang menurutku jantan beranjak dan berjalan mendekatiku. Lidahnya masih menjulur, nafasnya terengah-engah dan air liurnya menetes tak henti-henti. Sorot matanya tajam dan memancarkan cahaya permusuhan. Sial! Serigala itu semakin dekat. Aku harus bersiap dengan segala kemungkinan. Serigala itu melewatiku begitu saja kemudian hilang ditelan kegelapan. Aku merasa lega. Beberapa saat kemudian terdengar lagi derap langkahnya. Kepalanya menjembul seolah datang dari batas dunia lain. Badannya basah dan mulutnya tampak menggondol bungkusan hitam. Tiga buah. Tak salah lagi... itu pasti bungkusan yang tadi aku buang. Apakah onggokan daging itu akan dijadikan santapan malam?
Tiga bungkusan itu diletakkan di depan wanita itu. Kulihat ia tersenyum dan menggangguk. Setelah bayi yang ada dalam gendongannya diletakkan di lantai, wajahnya kulihat menatap lurus ke atas sementara tangannya dibentangkan lebar-lebar. Mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun yang membaca matra.
Jeegggleerrr.. kilat dan geledek bersahutan dengan begitu dasyatnya. Aku berjingkrak kaget... dan lebih kaget lagi begitu melihat bungkusan itu berdenyut pelan. Ada peristiwa apalagi? Denyut itu sangat pelan dan pasti. Ajaib! Sebetulnya monster apa yang ada di dalamnya? Wanita itu masih dalam posisinya. Angin berhembus kencang mempermainkan rambutnya, menambah kesan angker. Bungkusan itu semakin membesar dan mengembang... sampai tiba-tiba... Brak! sebuah benda menyembul keluar secara bersamaan. Mulutku mengangga. Ini pasti mimpi. Kepala! Ya... kepala bayi.
Wanita itu tersenyum lega, kemudian jongkok meraih salah satunya dan mengangkat tinggi-tinggi. Terdengar tawanya yang keras membahana. Bayi yang masih merah itu menangis keras... dari badannya menetes cairan kental dan seketika seluruh ruangan berbau amis darah. Di luar, kilat dan geledek masih setia menjadi saksi. Wanita itu melakukan hal yang sama pada kedua bayi yang lain.
Serigala jantan mendekat dan menjilati seluruh bagian tubuh bayi. Tangis bayi memenuhi ruangan. Begitu selesai... sebelah kaki depannya terangkat tinggi. Dan... Trash! Sebuah ayunan mengarah di pipi bayi itu. Darah mengucur... tangis bayi bertambah kencang. Jadi, luka cakaran pada pipi-pipi itu! Serigala itu kemudian menjilati luka bekas cakarannya. Kemudian beralih mendekati bayi sebelahnya...
Tiba-tiba saja perutku terasa mual, kepalaku menjadi berat dan mataku seakan tak sanggup lagi meneruskan semuanya. Cepat-cepat kuputuskan untuk berlari menerobos lebatnya hujan. Lolongan panjang serigala menghantarkan kepergiannku. Sambil berlari berbasah-basah... lamat-lamat kuingat cerita tentang kelahiran kurawa.
Esok harinya... dari koran kubaca berita tentang beberapa klinik yang terbukti melakukan tindakan aborsi. Bungkusan yang kubuang itu... Peristiwa tadi malam... Akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini. Sejak saat itu, semakin sering kujumpai anak-anak dengan luka bekas cakaran di pipinya. Di terminal, stasiun, perempatan jalan, pasar-pasar dan pembuangan sampah.
----
Sekarang aku sudah cukup damai dengan keluarga kecil yang dengan susah payah telah aku bina. Memiliki seorang istri yang cantik, sabar dan penuh pengertian serta dua orang anak manis yang sudah mulai beranjak dewasa. Malam ini kami berkumpul di ruang tengah, bercengkerama sambil menikmati siaran yang disuguhkan pesawat televisi. Semua saluran sedang menayangkan acara yang sama. Busyet... jadi nggak punya pilihan. Siaran langsung peresmian sebuah monumen yang didirikan oleh sebuah perusahaan besar, Kourawan Inti Persada.
Sebetulnya aku malas melihat tontonan seremonial semacam ini, tapi daripada tidur sore-sore, lagi pula ada sederetan bintang cantik yang megal-megol. Sip... lah. Kourawan Inti Persada adalah perusahaan yang sangat berpengaruh. Gurita bisnisnya menyusup ke segala sektor, akar-akarnya menancap begitu kuat di seluruh pelosok negeri. Hampir semua tender-tender besar berhasil mereka menangkan. Entah dengan resep apa.
Hari ini mereka merayakan ulang tahun perusahaan yang ke dua puluh dengan meresmikan sebuah monumen yang dibangun tepat di tengah kota. Acaranya terlihat sangat meriah. Deretan artis panen rejeki, mereka tampil begitu gemerlap di atas sebuah panggung dengan dekorasi dan tata lampu yang begitu megah.
Sampai pada acara inti, tampak jajaran Direksi dan beberapa pejabat pemerintah mulai naik panggung. Presiden Direktur berjalan paling depan diapit oleh ibunya, menuju podium yang diatasnya berjajar beberapa mikrofon. Wajah yang sudah begitu terkenal. Aku mendengarkan pidatonya itu sambil terkantuk-kantuk, hanya beberapa kalimat saja yang kuperhatikan.
"... Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak hingga Kourawan Inti Persada yang saya pimpin ini bisa berkembang begitu pesat hanya dalam waktu dua puluh tahun. Monumen ini saya beri nama "Monumen Kebangkitan Kembali" agar kita ingat bahwa cita-cita dan tujuan hidup bisa tercapai bila keyakinan dan perjuangan itu telah bangkit. Tak peduli siapa kita dan dari sudut mana kita dilahirkan serta oleh siapa kita dibesarkan. Seperti saya....."
Tiba-tiba ia berhenti berpidato. Kepalanya menunduk kemudian tangannya tampak memegang pipi. Jari-jarinya berusaha kuat menarik sesuatu yang menempel begitu kuat. Topeng? Aku melonjak kaget, begitu juga dengan istri dan kedua anakku. Kami beranjak mendekati layar televisi. Terdengar suara berisik dan kegaduhan di dalam sana. Begitu topeng itu terbuka... Ia menegakkan kepalanya. Aku tercengang. Wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang merata dan begitu nyata. Aneh dan seram. Aku lebih terkejut ketika melihat luka bekas cakaran di pipinya. Bayangan masa lalu berkelebat cepat. Malam itu... Rumah tua yang tinggal menunggu saat keruntuhan... bungkusan dalam kantong plastik hitam... Lolongan serigala... tangisan bayi... Diakah?
Ibu Presiden Direktur tersenyum. Ia kemudian melakukan hal yang sama dan begitu juga dengan jajaran Direksi serta beberapa pejabat yang ada di belakangnya. Melepas topeng-topeng. Revolusi apa ini? Wajah-wajah berbulu dengan luka cakaran di pipi memenuhi panggung. Sorot mata wanita itu? benar! aku tak akan bisa melupakannya.
"Sekarang saya persilakan Ibunda tercinta untuk memencet tombol peresmian Monumen Kebangkitan Kembali..."
Wanita itu berjalan mendekati sebuah meja dan dengan pelan dipencetnya tombol yang ada di atasnya. Monumen yang ada di samping panggung dan masih diselubungi kain hitam itu disoroti lampu warna-warni. Kembang api menyembur-nyembur menghiasi langit. Suara petasan mengikutinya. Langit bertaburan warna. Selubung hitampun mulai terkuak perlahan. Begitu nyala kembang api dan suara petasan berhenti, tampaklah sebuah pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Sebuah patung megah yang dikelilingi kolam air mancur. Aku hanya bisa menganga seolah tak percaya dengan penglihatanku.
Sebuah patung serigala dengan mulut yang menggigit sebuah kantong plastik hitam berisi seorang bayi dengan kedua tangan menjulur keatas, seolah ingin menggapai langit. Di atas panggung terlihat mereka berkacak pinggang dan tertawa keras. Entah darimana terdengar juga lolongan panjang serigala.
Entah dimana, 2002
