Tuesday, May 31, 2005

BAYI-BAYI YANG LAHIR DARI RAHIM KANTONG PLASTIK

Bayi-Bayi yang Lahir dari Rahim Kantong Plastik
------------------------

Akhirnya kuterima juga pekerjaan sebagai Penjaga Klinik di pinggiran kota. Aku harus berpikir realistis, daripada terus-menerus menganggur dan kenyataan bahwa aku hanya lulusan SMP. Tugasku persis seperti tukang kebon lainnya; membersihkan ini-itu, menyiapkan ini-itu atau disuruh ini-itu. Pokoknya apa yang diperintahkan Sang Majikan. Termasuk tugas khusus yaitu membuang sesuatu dalam bungkusan kantong plastik hitam.

Tugas kadang-kadang tapi cukup menguntungkan karena aku mendapat upah Rp 20.000,- per kantong plastik. Hal yang sangat wajar, karena tempat pembuangan yang ditentukan Sang Majikan sangat jauh letaknya. Sebuah lahan kosong berpagar tembok batako yang hanya berisi belukar, sampah dan sebuah rumah tua yang tinggal menunggu saat-saat keruntuhan. Gelap dan Seram, apalagi sesuai dengan perintah Sang Majikan aku harus membuangnya pada tengah malam. Maka begitu sampai, aku bergegas melemparnya ke dekat rumah itu dan kemudian cepat berlalu.

Awalnya kukira bungkusan itu adalah benda persembahan untuk penunggu yang mbahurekso rumah tua itu. Jadi aku tak pernah berani melongok isinya. Takut kualat. Aku hanya mereka-reka dengan menyentuhnya. Lunak seperti seonggok daging.

Pada pembuangan yang ketiga kali, aku mulai sedikit curiga. Bukan pada isi kantong plastik tetapi pada suara tangis bayi dan lolongan Serigala dari dalam rumah tua itu. Bulu kudukku merinding. Anak siapakah gerangan? Tempat ini sangat jauh dari perkampungan penduduk. Mungkin anak setan! Atau hanya karena rasa takut hingga aku membayangkan yang tidak-tidak. Tetapi pada pembuangan yang keempat, suara tangis bayi itu terdengar lagi. Apakah masih ada pemilik rumah? Tapi tak ada secercahpun nyala lampu.

Mungkinkah Danyang penunggu rumah sedang memiliki seorang bayi? Ya! siapa lagi yang sudi hidup dalam kegelapan. Apakah ini laku pesugihan yang dilakukan Majikanku? Atau jangan-jangan dia pemuja setan. Hii.. Aku segera berlari kencang.

Tapi tak selamanya keberuntungan bisa berpihak. Pada pembuangan yang kelima, setelah aku melempar bungkusan itu dan hendak berlalu... tiba-tiba dari langit yang memang sudah hitam pekat dikirimkan kilat dan geledek yang bersahut-sahutan. Bertambah sial ketika dari dalam rumah terdengar lagi suara tangis bayi dan lolongan panjang serigala. Gila! datang dari mana binatang hutan itu?

Byur... hujan turun lebat tak terkira. Berlari pulang rasanya sudah tak mungkin. Satu-satunya tempat berteduh jelas rumah tua itu. Aku tertegun sejenak... dan entah datang dari mana, rasa penasaran dan udara dingin mengalahkan ketakutanku. Aku berlari mendekati rumah itu. Suara tangis bayi masih terdengar. Persetan! Dengan mudah aku bisa masuk ke dalam. Daun pintu rumah memang sudah tidak ada. Gelap. Kudengar suara tetes-tetes air... pasti datangnya dari atap yang bocor. Suara tangis bayi semakin terdengar, mungkin dari ruang tengah.

Kilat kembali datang. Cahayanya menerangi bumi sampai ke sudut-sudut kegelapan. Aku berjingkrat kaget. Kuelus dadaku. Huh.... Cahaya kilat datang lagi... tangis bayi terdengar semakin kencang. Aku menggosok-gosok mataku... meyakinkan penglihatan. Dalam sekejap terang itu, dari ruang tengah kulihat pemandangan yang menakjubkan. Pada kilatan-kilatan berikutnya, semuanya menjadi jelas terekam.

Edan! Tiga bayi, seorang wanita, dua ekor Serigala dan beberapa anak kecil. Kutampar pipiku. Sakit juga... berarti aku sama sekali tidak bermimpi. Aku semakin mendekati ruang tengah. Kilat dan geledek semakin sering bersahutan. Itu sangat membantu aku untuk melihat segalanya. Wanita itu terlihat sedang menyusui seorang bayi. Pakaiannya lusuh, rambutnya acak-acakan dan dari wajahnya yang kotor terlihat jelas sebuah luka bekas cakaran di sebelah pipinya. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahku. Pandangan kami beradu. Mati aku! Kuntilanakah dia? Tapi kurasa bukan, kedua kakinya tampak menempel di tanah. Aku tak bisa berbuat apa-apa, sampai tiba-tiba dia tersenyum dan menggangguk, seperti mempersilakan aku.

Beberapa anak kecil terlelap di lantai berselimut koran. Damai seperti tak menghiraukan hujan deras dan kilat, semuanya seolah menjadi selimut yang memperpanjang mimpi. Belasan orang! berhimpitan dan berangkulan seolah membagi kehangatan. Beberapa ekor tikus got berseliweran di antara tubuh-tubuh mereka. Ketika kuperhatikan wajah polos mereka, kulihat ada bekas cakaran di pipi.

Pemandangan yang lebih menakjubkan terhampar di depan wanita itu. Seorang bayi berbaring di lantai di tunggui serigala. Lidah serigala menjulur, mulutnya mengangga, air liurnya menetes dan jatuh tepat di mulut bayi. Bayi itu tertidur lelap, tapi mulutnya tampak mengecap-ngecap. Bayi di sebelahnya sedang mempermainkan puting serigala yang satu lagi. Tangan-tangan kecilnya memukul puting susu itu dan sesekali mulutnya mengulum sambil menyedot susu. Busyet!

Aku tertegun melihat pemandangan itu. Pikiranku tak sempat bertanya-tanya, tak berani mereka-reka... barangkali memang sudah beku. Serigala yang menurutku jantan beranjak dan berjalan mendekatiku. Lidahnya masih menjulur, nafasnya terengah-engah dan air liurnya menetes tak henti-henti. Sorot matanya tajam dan memancarkan cahaya permusuhan. Sial! Serigala itu semakin dekat. Aku harus bersiap dengan segala kemungkinan. Serigala itu melewatiku begitu saja kemudian hilang ditelan kegelapan. Aku merasa lega. Beberapa saat kemudian terdengar lagi derap langkahnya. Kepalanya menjembul seolah datang dari batas dunia lain. Badannya basah dan mulutnya tampak menggondol bungkusan hitam. Tiga buah. Tak salah lagi... itu pasti bungkusan yang tadi aku buang. Apakah onggokan daging itu akan dijadikan santapan malam?

Tiga bungkusan itu diletakkan di depan wanita itu. Kulihat ia tersenyum dan menggangguk. Setelah bayi yang ada dalam gendongannya diletakkan di lantai, wajahnya kulihat menatap lurus ke atas sementara tangannya dibentangkan lebar-lebar. Mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun yang membaca matra.

Jeegggleerrr.. kilat dan geledek bersahutan dengan begitu dasyatnya. Aku berjingkrak kaget... dan lebih kaget lagi begitu melihat bungkusan itu berdenyut pelan. Ada peristiwa apalagi? Denyut itu sangat pelan dan pasti. Ajaib! Sebetulnya monster apa yang ada di dalamnya? Wanita itu masih dalam posisinya. Angin berhembus kencang mempermainkan rambutnya, menambah kesan angker. Bungkusan itu semakin membesar dan mengembang... sampai tiba-tiba... Brak! sebuah benda menyembul keluar secara bersamaan. Mulutku mengangga. Ini pasti mimpi. Kepala! Ya... kepala bayi.

Wanita itu tersenyum lega, kemudian jongkok meraih salah satunya dan mengangkat tinggi-tinggi. Terdengar tawanya yang keras membahana. Bayi yang masih merah itu menangis keras... dari badannya menetes cairan kental dan seketika seluruh ruangan berbau amis darah. Di luar, kilat dan geledek masih setia menjadi saksi. Wanita itu melakukan hal yang sama pada kedua bayi yang lain.

Serigala jantan mendekat dan menjilati seluruh bagian tubuh bayi. Tangis bayi memenuhi ruangan. Begitu selesai... sebelah kaki depannya terangkat tinggi. Dan... Trash! Sebuah ayunan mengarah di pipi bayi itu. Darah mengucur... tangis bayi bertambah kencang. Jadi, luka cakaran pada pipi-pipi itu! Serigala itu kemudian menjilati luka bekas cakarannya. Kemudian beralih mendekati bayi sebelahnya...

Tiba-tiba saja perutku terasa mual, kepalaku menjadi berat dan mataku seakan tak sanggup lagi meneruskan semuanya. Cepat-cepat kuputuskan untuk berlari menerobos lebatnya hujan. Lolongan panjang serigala menghantarkan kepergiannku. Sambil berlari berbasah-basah... lamat-lamat kuingat cerita tentang kelahiran kurawa.

Esok harinya... dari koran kubaca berita tentang beberapa klinik yang terbukti melakukan tindakan aborsi. Bungkusan yang kubuang itu... Peristiwa tadi malam... Akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini. Sejak saat itu, semakin sering kujumpai anak-anak dengan luka bekas cakaran di pipinya. Di terminal, stasiun, perempatan jalan, pasar-pasar dan pembuangan sampah.

----

Sekarang aku sudah cukup damai dengan keluarga kecil yang dengan susah payah telah aku bina. Memiliki seorang istri yang cantik, sabar dan penuh pengertian serta dua orang anak manis yang sudah mulai beranjak dewasa. Malam ini kami berkumpul di ruang tengah, bercengkerama sambil menikmati siaran yang disuguhkan pesawat televisi. Semua saluran sedang menayangkan acara yang sama. Busyet... jadi nggak punya pilihan. Siaran langsung peresmian sebuah monumen yang didirikan oleh sebuah perusahaan besar, Kourawan Inti Persada.

Sebetulnya aku malas melihat tontonan seremonial semacam ini, tapi daripada tidur sore-sore, lagi pula ada sederetan bintang cantik yang megal-megol. Sip... lah. Kourawan Inti Persada adalah perusahaan yang sangat berpengaruh. Gurita bisnisnya menyusup ke segala sektor, akar-akarnya menancap begitu kuat di seluruh pelosok negeri. Hampir semua tender-tender besar berhasil mereka menangkan. Entah dengan resep apa.

Hari ini mereka merayakan ulang tahun perusahaan yang ke dua puluh dengan meresmikan sebuah monumen yang dibangun tepat di tengah kota. Acaranya terlihat sangat meriah. Deretan artis panen rejeki, mereka tampil begitu gemerlap di atas sebuah panggung dengan dekorasi dan tata lampu yang begitu megah.

Sampai pada acara inti, tampak jajaran Direksi dan beberapa pejabat pemerintah mulai naik panggung. Presiden Direktur berjalan paling depan diapit oleh ibunya, menuju podium yang diatasnya berjajar beberapa mikrofon. Wajah yang sudah begitu terkenal. Aku mendengarkan pidatonya itu sambil terkantuk-kantuk, hanya beberapa kalimat saja yang kuperhatikan.

"... Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak hingga Kourawan Inti Persada yang saya pimpin ini bisa berkembang begitu pesat hanya dalam waktu dua puluh tahun. Monumen ini saya beri nama "Monumen Kebangkitan Kembali" agar kita ingat bahwa cita-cita dan tujuan hidup bisa tercapai bila keyakinan dan perjuangan itu telah bangkit. Tak peduli siapa kita dan dari sudut mana kita dilahirkan serta oleh siapa kita dibesarkan. Seperti saya....."

Tiba-tiba ia berhenti berpidato. Kepalanya menunduk kemudian tangannya tampak memegang pipi. Jari-jarinya berusaha kuat menarik sesuatu yang menempel begitu kuat. Topeng? Aku melonjak kaget, begitu juga dengan istri dan kedua anakku. Kami beranjak mendekati layar televisi. Terdengar suara berisik dan kegaduhan di dalam sana. Begitu topeng itu terbuka... Ia menegakkan kepalanya. Aku tercengang. Wajahnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang merata dan begitu nyata. Aneh dan seram. Aku lebih terkejut ketika melihat luka bekas cakaran di pipinya. Bayangan masa lalu berkelebat cepat. Malam itu... Rumah tua yang tinggal menunggu saat keruntuhan... bungkusan dalam kantong plastik hitam... Lolongan serigala... tangisan bayi... Diakah?

Ibu Presiden Direktur tersenyum. Ia kemudian melakukan hal yang sama dan begitu juga dengan jajaran Direksi serta beberapa pejabat yang ada di belakangnya. Melepas topeng-topeng. Revolusi apa ini? Wajah-wajah berbulu dengan luka cakaran di pipi memenuhi panggung. Sorot mata wanita itu? benar! aku tak akan bisa melupakannya.

"Sekarang saya persilakan Ibunda tercinta untuk memencet tombol peresmian Monumen Kebangkitan Kembali..."

Wanita itu berjalan mendekati sebuah meja dan dengan pelan dipencetnya tombol yang ada di atasnya. Monumen yang ada di samping panggung dan masih diselubungi kain hitam itu disoroti lampu warna-warni. Kembang api menyembur-nyembur menghiasi langit. Suara petasan mengikutinya. Langit bertaburan warna. Selubung hitampun mulai terkuak perlahan. Begitu nyala kembang api dan suara petasan berhenti, tampaklah sebuah pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Sebuah patung megah yang dikelilingi kolam air mancur. Aku hanya bisa menganga seolah tak percaya dengan penglihatanku.

Sebuah patung serigala dengan mulut yang menggigit sebuah kantong plastik hitam berisi seorang bayi dengan kedua tangan menjulur keatas, seolah ingin menggapai langit. Di atas panggung terlihat mereka berkacak pinggang dan tertawa keras. Entah darimana terdengar juga lolongan panjang serigala.

Entah dimana, 2002

Monday, May 30, 2005

Satu Kilo Seribu Rupiah

Satu Kilo Seribu Rupiah
------------------------

Satu kilogram gula pasir seribu rupiah! Siapapun pasti akan terkesima mendengar kalimat itu. Bukankah di negeri kita yang ada adalah kenaikan harga-harga? Kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan tarif telpon, kenaikan tarif angkutan, kenaikan harga BBM, dan kenaikan harga-harga yang lain.
Andaisaja kalimat itu dikatakan oleh Bang Jupri, satpam komplek, berarti botol minuman di tangannya telah habis ditenggak dan sebentar lagi dia akan merecoki anak-anak yang sedang asyik main gaple. Andaisaja kalimat itu dibicarakan oleh Pak Syahroni, pemilik tempat kost-ku yang juga calo barang-barang gaib, berarti pagi itu dia tidak minum teh manis dan istrinya ngomel-ngomel karena teman-temannya ternyata hanya menghabiskan stok gula di dapur. Berarti itu bisa menjadi kalimat manis juga untuk membujukku membayar uang kost untuk bulan depan.
Andaisaja kalimat itu disampaikan oleh Boss-ku, berarti aku harus curiga. Jangan-jangan gajiku bulan depan tidak bisa dibayar tepat waktu, mungkin karena pihak sponsor seminar kemarin belum menstransfer dana partisipasinya.
Tapi aku kira tidak, karena sepagi ini aku disuruh mengantarkan honorarium kepada salah satu pembicara seminar. Tugas inilah yang menyebabkan aku mendengar kalimat ajaib itu.
Satu kilogram gula pasir seribu rupiah! Bagaimana aku harus tidak percaya? Apalagi ketika aku membaca gelarnya di kartu nama: Dr. Ir. M.Sc. M.Sc itu kalau nggak salah Master of Science, berarti dia itu jago dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti Kungfu Master yang jago kungfu dan nggak mati-mati itu. Tapi kalau begitu M.Si atau MS itu singkatannya apa ya? Gelar-gelar sekarang kupikir membingungkan, tapi yang jelas orang ini lebih pintar dari orang pintar atau memiliki kepintaran yang berlebihan. Jadi pasti dia tidak sedang membual apalagi mabok.
"Saya bisa membawa gula pasir dari India dan menjualnya di sini dengan harga seribu rupiah."
"Satu kilo, Pak!"
"Ya! Satu kilo seribu rupiah."
"Harga gula pasir sekarang berapa, Mas?"
"Lima ribuan lebih Pak."
Jadi bagaimana aku harus tidak percaya. Apalagi dia kemudian menguraikan panjang lebar tentang penyebab mengapa harga-harga bisa menjadi mahal di pasaran: jalur distribusi yang terlalu panjang, pungutan ini itu di pelabuhan dan hal lain yang tak harus diceritakan. Kalau semua itu bisa dipangkas, percayalah! satu kilogram gula pasir seribu rupiah, begitu katanya.
"Saya tidak sekedar bicara pada Anda, kalau diberi kesempatan saya punya link untuk semua itu".
Aku hanya bisa terkesima mendengar semua penjelasannya sambil sesekali mengiyakan. Pasti aku kelihatan sangat lugu atau mungkin bodoh dimatanya, apalagi ketika sebuah pertanyaan membuatku tergagap.
"Anda lulusan mana?"
Pertanyaan itu seperti cermin yang disodorkan tiba-tiba dan membangunkan aroma kesadaran dalam diriku: kaos kaki yang sudah dijebol kuku jempol dan belum aku cuci satu minggu, keringat yang merambati ketiak, sepatu yang tidak pernah aku semir, dan kemeja yang tadi pagi lupa aku seterika. Harus begitu lusuhkah jalan hidupku?
“Nama saya Sarkimin, seorang Office Boy, tapi kadang-kadang menjadi kurir dan nasiblah yang mempertemukan kita.”
Apakah aku harus menjawab seperti itu?
"Saya hanya lulusan SMA, Pak."
Pembicaraan ini kurasa sebentar lagi akan berakhir, karena kupikir dia sedang menyia-nyiakan waktunya berbicara panjang lebar dengan orang seperti aku ini. Kulihat tumpukan kertas tertata dan sebagian berserakan di meja, lantai dan lemari, pasti semua sedang menunggu kejelian mata, kejernihan analisa dan ketajaman otaknya.
"Nggak apa-apa..., latar belakang pendidikan nggak menjadi soal yang penting bagaimana perjuangan kita dalam hidup ini. Saya dulu dari keluarga yang tidak mampu juga"
Ternyata aku salah sangka, karena kemudian dia bercerita tentang masa lalunya. Mungkin seperti sebuah keharusan, seorang tokoh terkenal harus punya cerita masa lalu yang suram, yang bisa dijadikan suri tauladan dan memacu semangat bagi orang-orang yang kurang beruntung seperti aku. Bukankah yang sering kita baca adalah kisah seperti itu? Masalah nantinya ketika dia sudah duduk di posisi yang tinggi dia melupakan masa lalunya dan tidak berpihak pada orang-orang biasa, itu lain soal.
Mendengar ceritanya aku seperti terseret ke dalam pusaran kehidupan masa laluku. Berangkat ke sekolah naik sepeda unta enam belas kilometer pulang pergi tanpa sarapan dan uang jajan, uang SPP yang sering nunggak, sebutir telur rebus yang harus dibagi lima, belepotan lumpur di sawah selepas sekolah dan pulangnya membersihkan tubuh di sungai yang keruh, dan banyak hal yang memang harus aku lalui sebagai jalan hidup. Seperti serupa hanya satu persimpangan nasib yang membuat kita berbeda: aku langsung mencari kerja di Jakarta selepas SMA dan beliau ini meneruskan kuliahnya. Tapi, haruskah aku harus mengabarkan semua itu sebagai duka?
Walaupun pembicaraan ini sangat menarik, sebenarnya aku merasa sangat kikuk. Biasanya langkahku terhenti di ruang resepsionist dan tugasku selesai bila sudah ada yang menandatangani blangko tanda terima. Tapi, karena kali ini menyangkut soal uang dan Boss-ku berpesan untuk menyerahkan langsung kepadanya, akupun dipersilakan seorang sekretaris untuk masuk ke ruang kerjanya. Aku kira akan sebentar, tapi ternyata sampai saat inipun dia belum juga menyentuh amplop yang kuletakkan di depannya.
“Pada seminar kemarin sebetulnya saya ingin berbicara banyak, tapi sayang waktunya cuma sebentar. Kalau bikin seminar jangan terlalu banyak pembicara dong… Masak diskusi jadinya cuma 30 menit , kasihan kan para peserta, sudah bayar nggak bisa kasih pertanyaan. Rencananya hasil seminar mau dibawa kemana?”
“Mungkin dijadikan buku atau dibawa ke Senayan, Pak!.”
“Bilang sama Boss-mu, harus ada tindak lanjutnya, karena ini menyangkut kepentingan rakyat banyak. Percuma dong, kemarin banyak yang ngomong, kalau cuma berakhir di laci meja“
Selanjutnya, karena tidak ada moderator yang memberitahukan padanya bahwa waktu sudah beranjak siang, mungkin aku harus kembali menjadi pendengar setia. Aku pandangi sederetan buku tebal, piala dan plakat yang berjajar di lemari, sementara telingaku harus tertatih mengikuti carut marut perjalanan hidup bangsa ini setelah dihantam krisis multidimensi lengkap dengan berbagai gejolak, penyimpangan dan tekanan yang ada di lembaganya.
“Begitulah negerimu, Mas!”
Dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, kemudian aku merasa kikuk ketika sepasang matanya menatapku. Tiba-tiba aku seperti menangkap sorot mata kekalahan dari Pak Syahroni tua dengan tubuh gendutnya yang hampir seharian dia hempaskan di sofa depan rumahnya sambil tak henti berkeluh-kesah dan sesekali membanggakan kejayaan masa lalunya. Tapi selalu ada harapan dalam kehidupan ini, sebagaimana Pak Syahroni tetap gigih berjalan kaki menyusuri kampung-kampung terpencil, karena dia begitu yakin bahwa pada salah satu sudutnya tersembunyi impian yang mengganggu tidurnya: sebutir merah delima seharga milyaran rupiah. Kabar terakhir, ada seorang tokoh berkenan membelinya untuk memuluskan langkahnya menuju kursi Ketua Umum sebuah partai besar.
“Ketahuilah, Mas. Di sini tidak semuanya diukur dengan gemilangnya prestasi, semuanya tergantung bagaimana kita mensikapi arus yang ada. Banyak orang-orang yang baik tapi suaranya tidak pernah didengarkan. Tapi… Begitulah negerimu, Mas!”
Sekarang giliran aku yang menarik nafas panjang. Ya, Tuhan isyarat apa yang ingin Engkau sampaikan kepada hamba-Mu ini?
“Doakan Mas, mudah-mudahan tahun depan saya diberi kesempatan berkiprah lebih banyak untuk negeri ini.”
Seorang sekretaris masuk membawa setumpuk berkas dan diletakkan di atas meja dan berlalu sambil menatapku tajam. Aku jadi ingat dengan Ibu Syahroni yang selalu bolak-balik bila pembicaraan di beranda rumahnya tak jua berakhir. Ah, aku memang sudah terlalu lama berada dalam ruangan ini.
“Maaf Pak, saya masih harus ke tempat lain, mohon tanda terimanya ditandatangani”
“Sebetulnya hal seperti ini nggak terlalu penting, saya kemarin betul-betul hanya ingin ikut memberi sumbangan pemikiran bagi bangsa dan negara ini…, demi kepentingan rakyat banyak…. Tapi mungkin ini rejeki bagi saya.”
Dia meraih amplop dan segera menandatangani blangko tanda terima.
“Oke, saya juga masih banyak pekerjaan. Lain kali kita bisa berbicara lagi, nggak usah sungkan-sungkan…, datang saja ke sini.”
“Terima kasih, Pak!”
“Sama-sama.”
------

Satu kilogram gula pasir seribu rupiah! Kalimat itu masih saja terngiang dalam ingatanku walaupun laju lift dari lantai 20 seperti menyedot habis peredaran darah kemudian menggumpal di otak. Bagaimana aku akan menceritakan berita ini pada semua orang. Satpam gedung kulihat terkantuk dan tidak memperdulikan siapa saja yang keluar-masuk, padahal di gedung lain selalu ada pemeriksaan barang bawaan dan harus meninggalkan KTP. Gila! Ini gedung milik lembaga pemerintahan, untung saja aku bukan anak buah Dr. Azahari.
Apakah aku harus mendatangi kedua orang satpam itu kemudian mengajukan pertanyaan seperti dalam sebuah polling: Percayakah Anda bahwa harga gula pasir satu kilogram bisa seribu rupiah? Kalau kedua satpam ini menjawab: Tidak! Ya, teruskanlah kantuk kalian. Tapi kalau dia menjawab: Ya! Bangun dan siagalah, karena di dalam gedung ini ada orang yang bisa mewujudkan mimpi itu.
Dari anak tangga jembatan penyeberangan, gedung itu terlihat sangat tinggi. Senyum ibu pengemis menyambutku ramah sambil menyodorkan gelas minuman bekas berlogo Mc Donald’s, tangan satunya mengelus tubuh seorang anak kecil yang tertidur meringkuk. Apakah harus aku bisikkan sebuah harapan ke telinganya: tenang ibuku, sebentar lagi harga gula pasir cuma seribu rupiah. Aku tersenyum sambil mengangkat telapak tangan dan berlalu…, maaf.
Satu kilogram gula pasir seribu rupiah! Apakah kabar ini akan menjadi nyata, sebagaimana tempelan harga-harga yang biasa kita baca dan dengar di jembatan penyeberangan, bus kota, halte, trotoar, stasiun, terminal, pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Kaos Kaki 3 Pasang Rp. 10.000,-. Toner Kosong Anda Kami Hargai Tinggi. Kaos Oblong Rata-rata Rp 10.000,-. VCD 3 Keping Rp 10.000,-. Jeans Rata-rata Rp 35.000,-. Aneka Tas Rp 10.000,-. Dasi Keren Rp 10.000,. Ikat Pinggang Rp 10.000,-. Kemeja Pria Rata-rata Rp 25.000,-. Aneka Perkakas 3 Buah Rp 10.000,-. Pos Kota Rp 500,- koran lain Rp 1.000,-. Majalah Bekas Rp 10.000,-. Jam Tangan Rata-rata Rp 25.000,-. Dan tempelan tulisan lain yang akan terus bertambah seiring gencarnya serbuan produk-produk China ke negeri kita.
Lihatlah! Langit tak akan pernah membiarkan kehidupan di bawahnya punah. Ah, darimana kalimat itu pernah aku baca. Hidup memang penuh dengan harapan… Suatu saat semoga stasiun radio amatir di samping tempat kost-ku memberitakan kabar gembira di sela-sela keriuhan lagu-lagu dangdut mengiringi sapaan genit penyiarnya untuk tetangga-tetangga dan Bu Syahroni yang sedang menampi beras ikut berdendang riang sementara Pak Syahroni menyeruput teh manisnya sambil melambaikan tangan mengantarkan langkahku menyusuri pagi yang benar-benar sempurna.
Kabar gembira yang kemudian bisa aku baca di warung Cing Kokom yang manis itu. Tulisan tebal di atas sobekan kardus mi instan dengan spidol merah: Gula Pasir 1 Kilo Rp 1.000,- .
--- oOo ---

Depok, 18 Desember 2004

Nawang Wulan

Nawang Wulan
----------------------------
Dimuat dalam harian sore Sinar Harapan

"Jangan sekali-kali membuka tutup periuk ini."
Seingatku ada tiga orang yang pernah mengatakan hal seperti itu.
Orang yang pertama adalah Emakku. Soalnya ketika kecil dulu aku sering mengambil air campuran beras yang sudah mendidih, kemudian kucampur dengan sedikit garam dan gula jawa. Orang menyebutnya air tajin. Rasanya enak sekali. Mungkin air tajin itu kurang sehat atau Emak agak kesal karena kadang aku mengambil tajinnya terlalu banyak hingga air yang ditakar secukupnya akan berkurang kemudian mengganggu keras lunaknya nasi.
Orang kedua adalah Dewi Nawangwulan. Tentu saja pesan itu tidak ditujukan untukku, tapi untuk pemuda desa bernama Jaka Tarub, suaminya. Pesan itu walaupun lamat-lamat selalu kuingat, karena Bapak berkali-kali mendongengkannya ketika aku kecil tak jua mau terlelap. Sekarang aku pasti tidak bisa merangkai dongeng itu secara sempurna. Entahlah dongeng apa yang bisa aku ceritakan kepada anakku nanti.
Orang ketiga adalah istriku sendiri. Pesan itu tentu saja untukku, hanya ada perbedaan sedikit mungkin karena tuntutan perkembangan zaman.
"Jangan sekali-kali membuka tutup rice cooker ini."
-----

Sebagai suami yang baik, aku mengiyakan saja ketika pertama kali mendengar pesan itu. Tapi karena Wulan, istriku terus mengulanginya setiap menanak nasi rasanya pesan itu menjadi aneh. Apakah dia khawatir aku akan mengambil air tajin, karena bisa saja orang mengalami kerinduan masa kanak-kanak. Tapi darimana dia tahu kalau waktu kecil aku sering menyambangi dapur. Atau barangkali istriku ingin sekali memanjakan aku, hingga aku tak perlu lagi mencampuri urusan dapur. Menerima pesan yang sama dan berulang-ulang memang menjemukan dan menimbulkan tanda tanya.
"Jangan-jangan istriku titisan Dewi Nawangwulan."
Bukankah hanya Dewi Nawangwulan yang terus mengulang pesan itu kepada Jaka Tarub. Dewi Nawangwulan bisa mengubah sebutir beras menjadi sebakul nasi, tentu saja bila tidak ada campur tangan manusia. Maklumlah, Dewi Nawangwulan kan seorang bidadari, maka akan sangat berbahaya kalau ada manusia berani mengintip rahasia kesaktiannya, termasuk Jaka Tarub, suaminya yang hanya manusia biasa.
Tapi masak sih, istriku titisan seorang bidadari. Memang nama lengkap istriku juga Nawang Wulan, hanya ada tambahan Anggraeni. Nawang Wulan Anggraeni, mungkin orangtuanya mengharap anak gadisnya bisa secantik Dewi Nawangwulan, tapi kemiripan nama kan hanya fiktif belaka dan tidak direka-reka.
-----

Bidadari turun ke bumi melewati tangga pelangi. Begitu lazimnya sebuah dongeng, seperti ketika Dewi Nawangwulan hendak mandi di sebuah telaga yang bening dan indah di bumi. Mungkin memang benar bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, hingga tak ada lagi pemandian di kahyangan yang menyamainya. Ternyata bidadari punya rasa bete juga.
Tapi mana mungkin istriku titisan bidadari walaupun langit juga berhias pelangi ketika pertama kali kami bertemu. Aku melihat lengkung warna-warninya ketika telunjuk Wulan memberi arah. Saat itu titik-titik gerimis menerpa wajahku.
"Namaku Wulan, rumahku di ujung desa."
Tapi, tak ada telaga yang bening dan indah ketika pertama kali aku bertemu dengan Wulan. Tak ada cerita seorang pemuda yang mengendap-endap di bebatuan. Aku yakin pada waktu itu, Jaka Tarub merasakan birahi yang memuncak, sebab lelaki normal mana yang adem ayem saja ketika melihat wanita sedang mandi, apalagi dia seorang bidadari. Birahi yang menuntun tangan-tangannya mengembat selendang milik Dewi Nawangwulan.
"Aku hanya perempuan penggembala."
Sore itu, aku melihat seorang gadis manis sedang berlari menghalau beberapa ekor kambing yang nakal menggasak kebun singkong di pinggir kali. Selendang yang disampirkan di lehernya menari-menari, mengikuti irama liukan rambut panjangnya yang dipermainkan angin. Seperti adegan dalam film India dan sepotong iklan sampo anti ketombe. Sebuah keindahan yang mendebarkan dada dan menghentikan kayuhan sepedaku.
Aku selalu mengingat tempat itu. Sebuah tempat dekat bendungan irigasi di sebuah sungai tak jauh dari kampungku. Orang-orang menyebut bendungan itu Brug Seng, karena bangunan itu dulunya beratap seng. Walaupun sekarang bendungan itu sudah diganti semuanya dengan beton, orang-orang tetap menyebutnya dengan Brug Seng bukan Brug Beton. Begitulah, penduduk desa memang lebih setia dengan sejarah.
Kalau aku tidak kena PHK, mungkin aku tidak akan bertemu dengan Wulan. Pabrik tempat aku bekerja terancam bangkrut, hingga perlu diadakan semacam restrukturisasi termasuk rasionalisasi jumlah karyawan. Aku mungkin termasuk karyawan yang tidak rasional atau karena aku ikut-ikutan aktif di beberapa organisasi dan komunitas buruh. Akhirnya, aku terpaksa pulang kampung untuk mendinginkan mesin.
Seperti sebuah ritual, setiap kali pulang kampung, selalu kusempatkan waktu untuk menengok Brug Seng, karena tempatnya memang asyik untuk melamun atau meratapi diri. Kalau Jaka Tarub berhasil memikat hati Dewi Nawangwulan dengan cara-cara yang ilegal, aku baru berhasil mencuri selendang cinta yang ada di hati Wulan, setelah melalui pendekatan yang cukup panjang.
Berarti adanya pelangi waktu pertama kali bertemu Wulan, pasti sebuah kebetulan belaka. Pertemuan di sore-sore berikutnya, langit tak menampakkan selarik pelangi. Bidadari turun ke bumi tidak setiap hari, apalagi pakai ngedate segala.
-----

"Jangan sekali-kali membuka tutup rice cooker ini".
Apakah Wulan bermaksud menyindirku. Maklumlah, sampai saat ini aku belum mendapatkan pekerjaan baru. Beberapa surat lamaran sudah kukirimkan, semuanya mendapat tanggapan yang hampir serupa: Nanti akan kami hubungi kembali. Nanti-nanti sampai kapan?
Mungkin ini cobaan bagi rumah tangga yang boleh dikatakan: nekat aku bina. Bagaimana tidak nekad, dalam keadaan yang terombang-ambing, justru aku memutuskan untuk menikah. Mungkin karena kalimat sakti yang meluncur dari bibir tipis Wulan menguatkan keberanianku.
"Rejeki sudah ada yang mengatur. Kita bisa mulai dari nol".
Memang begitu resiko pacaran di desa. Satelit mata-mata akan mengawasi gerak gerik kita dari setiap sudut. Rasanya, hampir semua penduduk itu bersaudara dan orang tua akan selalu gigih menjaga sebelum hal-hal yang tidak diinginkan menimpa anak gadisnya. Karena desakan berbagai pihak, dengan menguras tabungan hasil kerjaku selama bertahun-tahun, akhirnya kamipun menikah.
Tapi ada enaknya juga punya mertua orang desa. Mereka rata-rata rela berkorban bila anak-anaknya sedang mengalami kesusahan. Beberapa kambing milik Wulan dijual untuk biaya kontrakan setahun di pinggiran Jakarta. Orang tuaku pun membekali sekarung goni beras, bumbu-bumbu dan peralatan dapur.
Sudah tiga setengah bulan berlalu, rasanya tak ada perubahan yang berarti dalam rumah tanggaku ini. Kalau saja aku sudah mendapat pekerjaan, tentu sesiang ini aku sudah ada di tempat kerja dan tak terganggu atau berlarut-larut memikirkan pesan itu.
"Jangan sekali-kali membuka tutup rice cooker ini".
-----

Beras di dalam air secukupnya. Pasti itulah yang akan aku dapatkan jika aku membuka tutup rice cooker itu. Jadi untuk apa Wulan selalu mengulang pesan itu setiap kali menanak nasi. Apakah dia mempunyai firasat bahwa suatu saat aku pasti akan membukanya? Kalaupun aku membukanya, apakah beras dalam rice cooker tak jadi tanak?
Beras di dalam air secukupnya. Memangnya ada benda apa lagi yang membuat nasi putih mengepul terhidang di depanku. Kalaupun ada benda lain, yang paling mungkin adalah telor ayam. Biasanya ibu-ibu mengukus telor ayam di atas nasi yang hampir tanak.
Begitulah, aku terus saja memikirkan pesan itu. Bagaimana tidak, uang di saku sudah begitu menipis dan mengkhawatirkan. Sementara itu, aku harus hilir mudik ke sana kemari mendatangi tempat yang katanya menyediakan lowongan pekerjaan. Belum lagi untuk beli kertas folio, beli amplop, rental komputer, warnet, ngeprint surat lamaran, dan lain-lain. Untung saja, istriku seorang perempuan yang penuh pengertian. Tak pernah terdengar satu keluhanpun keluar dari bibirnya. Dan yang paling ajaib: hidangan selalu tersedia di meja makan tepat pada waktunya.
Kekuatan apa yang bisa membuatnya mumpuni mengurusi dapur dengan budget yang begitu kutekan? Jangan-jangan Wulan memang titisan bidadari, yang punya kekuatan merubah sebutir beras menjadi sebakul nasi. Ketika suatu saat kuberanikan untuk bertanya mengenai pesan itu, Wulan hanya tersenyum manis sambil memegang lembut tanganku.
"Nggak ada apa-apa kok... Nggak usah dipikirin. Mendingan kamu mikirin mencari pekerjaan saja, urusan dapur biar aku yang ngatur..."
-----

Hampir empat bulan. Kalau dari kalkulasi umum, apakah sekarung goni beras bisa bertahan selama itu? Walaupun hanya untuk makan kami berdua. Belum lagi sayur dan lauk pauknya, yang sesederhana apapun memerlukan biaya. Aku memang tak pernah melongok persediaan beras di dapur, karena Wulan selalu tersenyum dan menjawab: Jangan kuatir masih ada kok.
Hebat sekali istriku ini. Jangan-jangan dia punya tabungan yang disembunyikannya dariku. Tapi kurasa tidak mungkin, karena kontrakan ini terlalu sempit untuk menyimpan sebuah rahasia. Atau jangan-jangan dia punya banyak utang di warung sebelah, karena sudah beberapa minggu aku tidak memberinya uang belanja. Tiap kali uangku yang sudah begitu mengkhawatirkan itu aku berikan padanya dia selalu menolak.
“Sudahlah, kamu pasti lebih memerlukannya. Tak perlu kuatir, urusan dapur biarlah aku yang mengaturnya.”
Dan seperti biasa: hidangan selalu tersedia di meja makan tepat pada waktunya. Keajaiban yang selalu saja mengganggu pikiranku. Ini jelas bukan sebuah kewajaran. Sebuah rumah tangga harus diawali dengan keterbukaan, mengapa harus ada pesan: Jangan sekali-kali membuka tutup rice cooker ini.
Berarti ada sebuah rahasia yang tersimpan dalam rice cooker itu, hingga aku tak boleh mengetahuinya. Tapi mengapa selama ini aku begitu mematuhi pesan itu. Kalau aku menceritakan hal ini kepada teman-temanku, jangan-jangan mereka akan memasukkan aku dalam kelompok ISTI (Ikatan Suami Takut Istri), dengan alasan: membuka tutup rice cooker saja tidak berani, apalagi hal-hal yang lain.
Jadi rahasia apa yang datang bersama terhidangnya semua makanan itu. Kalau memang rahasia itu tersembunyi di dalam rice cooker dan aku nekad membukanya, jangan-jangan aku akan mengalami nasib yang sama dengan Jaka Tarub yang kemudian kehilangan Dewi Nawangwulan. Tapi aku merasa begitu yakin istriku bukan bidadari atau titisannya.
Masak sih gara-gara dilarang membuka tutup rice cooker, aku harus tega menuduh Wulan selingkuh dengan lelaki lain. Selama ini kulihat Wulan baik-baik saja, tidak ada indikasi ke arah itu. Wulan lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, bahkan dia jarang bergabung dengan ibu-ibu tetangga yang suka ngerumpi di warung. Jadi rahasia apa yang disembunyikan istriku dalam rice cooker itu.
Akhirnya rasa penasaran itu memuncak juga. Aku harus mengorek sekam untuk memastikan tak ada bara di dalamnya. Tidak ada yang boleh menyimpan rahasia dalam rumah tanggaku, sebagaimana aku selalu berusaha untuk jujur dan terbuka tentang apa saja kepada istriku. Memangnya apa yang akan diperbuat Wulan andai aku membuka tutup rice cooker itu. Terbang seperti Dewi Nawangwulan? Aku tak boleh takut dengan bayang yang kuciptakan sendiri.
Pada suatu kesempatan, akhirnya kuberanikan juga membuka tutup rice cooker. Mungkin ini memang harus terjadi, sebagaimana Jaka Tarub tak kuasa untuk melawan rasa penasarannya. Semua terjawab ketika kenyataan itu menggenang di depan mataku.
Air. Ya, hanya air saja tanpa sebutir beras pun. Apakah kesaktian Dewi Nawangwulan telah habis?
Kudengar isak Wulan yang tiba-tiba sudah ada di belakangku, begitu lamanya aku terkesima atau begitu cepatnya dia kembali dari warung.
“Kamu telah melanggar pesanku”.
Wulan tersedu sambil memukul-mukul dadaku. Baru kali ini sebuah pukulan kurasakan begitu menyakitkan.
“Berarti selama ini kamu selalu mencurigaiku. Kau pikir aku Dewi Nawangwulan yang menari-nari dalam celoteh dan kecurigaanmu.”
“Mengapa kamu menyimpan rahasia di depan suamimu ini?”
“Aku hanya ingin tahu seberapa besar rasa kepercayaan pada istrimu. Aku melihat bebanmu begitu berat, makanya aku tak mau persoalan dapur menambah beratnya beban itu”
“Lalu genangan air ini....”
“Beras dan minyak tanah sudah habis, jadi aku pakai saja rice cooker itu untuk merebus air. Baru habis itu aku mau menanak nasi. Hari ini kita makan yang seadanya saja ya...” kata Wulan sambil memperlihatkan sekantong plastik beras dan derigen minyak.
“Katakan, darimana kamu mendapatkan uang?”
Wulan tak menjawab. Ia hanya membuka kancing bajunya bagian atas.
“Aku telah menjualnya”.
Kalung itu... Mengapa aku tak pernah memperhatikannya.
“Entahlah, apa lagi yang bisa aku jual”
Kata-kata Wulan seperti menelanjangi ketidakberdayaanku sebagai seorang laki-laki. Pengorbanannya menjaga laju biduk rumah tanggaku kubayar dengan kecurigaan-kecurigaan. Lelaki macam apa aku ini.
“Maafkan aku, sayang...”
Entahlah, mungkin kesalahanku ini memang tak pantas untuk dimaafkan karena sepanjang malam kudengar Wulan terisak.
-----

"Sayangku, ijinkanlah aku pergi"
Pagi itu Wulan membangunkanku dalam keadaan rapi dengan selendang tersampir di pundaknya. Aku segera memeluk tubuhnya dan menghiba, seperti seorang anak kecil yang direbut mainannya, seperti Jaka Tarub yang punya firasat akan ditinggalkan Dewi Nawangwulan.
"Aku memang salah. Tapi aku mohon, kamu jangan pergi meninggalkanku. Please... Kalau kamu pergi, siapa yang akan menemaniku mengarungi kehidupan ini"
Wulan terisak dan membalas pelukanku.
"Walaupun kamu sudah melanggar pesanku. Aku tak akan pergi meninggalkanmu. Aku bukan Dewi Nawangwulan yang meninggalkan Jaka Tarub. Aku manusia biasa, seorang wanita dengan cinta dan kesetiaan tertanam dalam dada. Bukankah kita sudah berjanji untuk menghadapi beban hidup ini bersama-sama"
Kami berpelukan semakin erat.
"Tapi, kamu mau pergi ke mana?"
"Begini, seorang teman menawariku menjadi baby sister di komplek sebelah. Dua ratus ribu sebulan. Dari pagi sampai sore hari saja kok... Nggak apa-apa kan?"
"Aku memang lelaki yang tidak bisa bertanggungjawab. Maafkan aku... "
Wulan menghapus air mataku dengan ujung selendangnya.
"Sudahlah... mungkin ini cobaan bagi kita. "
Anggukan kepalaku, seperti penanda betapa begitu lemah dan rapuhnya aku sebagai seorang laki-laki dan kepala rumah tangga.
"Hati-hati ya...," Kataku sambil mencium kening Wulan.
Kuantarkan Wulan sampai ke beranda. Tubuh rampingnya begitu cepat menghilang di ujung gang. Titik-titik gerimis menerpa wajahku. Kugosok-gosok mataku dengan kedua belah tangan. Aku harus yakin bahwa aku tidak mimpi atau belum sempurna bangun dari tidur.
Pelangi. Di langit kulihat selarik pelangi.
--- oOo ---

paDEPOKan, 9 Februari 2004
Kado untuk Elisya Ayu Nengsih, istriku

Paijo Dikejar Deadline

Paijo Dikejar Deadline
---------------------------------------
Dimuat dalam depokmetro.com

Di sebuah rumah mewah pukul 19:30 malam. Pesawat telepon di ruang tengah berdering keras. Suara cumbu rayu dan tawa riang di ruang tamu terhenti seketika. Paijo setengah berlari menghampiri pesawat telepon itu dan segera menyambar gagangnya.
"Hallo, selamat malam," kata Paijo tersengal-sengal.
"Maaf Jo, Ibu mau minta tolong diketikin press release. Hanya dua lembar saja kok, nanti kalau sudah selesai langsung kirim saja ke email ibu. Usahakan sebelum jam delapan ya. Kamu sudah nggak ada kerjaan lagi kan? Naskahnya saya fax ya... ini sudah saya siapkan, tolong beri nada".
"Ya, bu," kata Paijo dengan setengah terpaksa sambil tangannya memencet tombol start.
“Ah, mengganggu saja,” gumam Paijo. Tanpa bersemangat jempol kakinya menekan tombol power pada Automatic Voltage Regulator yang dihubungkan dengan pesawat komputer.
Mesin faks terus berderit perlahan mengeluarkan lembaran kertas. Tiba-tiba tangan lembut Minah dirasakan menggelayuti lehernya. Paijo meraih tangan itu dan kemudian menciumnya. Ada aroma bawang merah yang khas memenuhi rongga dadanya. Paijo tersenyum, selalu ada desiran yang tak bisa terkatakan bila mencium tangan Minah lengkap dengan aroma bawang merahnya. Inikah yang dinamakan cinta sebenarnya atau gejolak birahi semata?
"Siapa sih, mas?"
"Biasa.., Ibu minta diketikin. Sebentar juga selesai. Sabar ya sayang."
"Menganggu saja. Nggak tahu orang lagi kangen apa?"
"Iya tuh. Sialan"
Suara kertas terpotong terdengar jelas. Mesin faks memuntahkan satu lembar kertas kemudian berderit lagi mengeluarkan lembaran kertas berikutnya. Tangan Paijo menggerakkan mouse dan di layar monitor, anak panah menghampiri icon WordStar. Klik! Ah, mengapa masih saja harus pakai WordStar, bukankah sekarang sudah zaman Windows yang begitu memanjakan pemakainya, dimana ingatan tak tersia-sia untuk menghafal perintah-perintah bertitik, atau perintah yang didahului dengan menekan tombol Ctrl, Alt, Shift, F1 sampai F10 dan tetek bengek lainnya. Paijo seperti harus mengais ingatan ketika menjalani kursus WS, Lotus dan dBase selepas lulus SMP dulu.
"Mas Paijo, jadi kepastiannya gimana?" Suara Minah terdengar begitu mendesah di telinganya.
"Kepastian apa?" tanya Paijo sambil memegang lembaran kertas faks.
"Gitu deh, sebel. Kepastian tentang hubungan kita. Baru saja diomongin, sudah pikun ya?"
Suara kertas terpotong kembali terdengar jelas. Sebagaimana pisau yang tersembunyi dalam tubuh mesin faks, rengekan Minah adalah sembilu yang mengiris-iris hati Paijo. Sabar sayangku, Mas Paijo akan selalu berusaha untuk mewujudkan segala cinta yang telah bersemi di antara kita.
"Entar ya, Mas ngetik dulu. Cuma dua lembar, cepat kok".
"Biasanya, ngetik sambil ngobrol juga bisa."
"Iya... Iya. Ya udah mau ngomong apa?"
"Jadi gimana dengan masalah kita. Maksudnya Mas Paijo ini sebenarnya serius nggak sama Minah, biar hati Minah bisa tenang"
"Kalau itu, entar saja Mas jawab. Sabar sayang ya, nanti Ibu marah kalau jam delapan belum juga selesai. Pokoknya beres deh..."
"Beres, beres.... Buktinya nggak ada. Cuma janji doang."
"Kasih waktu dong buat Mas, emang nikah itu perkara gampang."
"Dua tahun mas…, masak sih kita begini-begini aja. Nggak ada kepastian sama sekali."
"Ya... iya... tapi entar aja deh. Pusing tahu... Nih baca aja press release ini biar pintar dan tidak ketinggalan jaman. Nasib kita boleh memble tapi soal informasi kita tidak boleh ketinggalan, apalagi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan rakyat kecil seperti kita ini”
"Malas ah, mendingan nanti dengar dari mas Paijo saja”
“Eh… mau enaknya saja. Contohnya seperti seminar tentang RUU yang akan disyahkan ini, tapi masih banyak pro dan kontranya karena dianggap merugikan masyarakat. Begitu juga dengan persoalan kita sayang, karena masih banyak hal yang perlu dipikirkan maka rencana pernikahan kita harus kita kaji kembali, karena pernikahan itu kan bukan seperti membikin mie instant. Begitu neng….” Tangan Paijo mencubit pinggang Minah.
"Iiih, geli tahu."
Paijo mendongakkan kepalanya. Bibir mereka bertemu. Mmmmuahhh.
"Udah dulu, ya. Mas mau ngebut ngetik. Kalau nggak selesai. Wow, bisa dimarahin."
Mata Paijo terus merambati huruf-huruf di lembaran kertas fax. Jari-jarinya menari di atas papan keyboard dengan kecepatan maksimal, sementara kedua tangan Minah terus mendekap lehernya.
"Udah... udah... jangan ngganggu dong. Nanti kalau ada yang salah bisa berabe, ibu bisa ngomel-ngomel. Kamu ini lagi mikirin siapa sih, Jo… Masak ngetik banyak yang salah begini, untung Ibu teliti kalau nggak bisa gawat."
Paijo menghela nafas panjang. Untung saja, ketikan kali ini tidak banyak angka-angkanya, pasti bisa lebih cepat. Ngetik angka-angka paling rumit dan melelahkan mata, resikonya bisa dimarahin Ibu kalau salah. Apalagi kalau angka-angka itu menyangkut uang negara, ibu bakal kelabakan. Jelas dong! Masak wartawan senior yang sudah puluhan tahun bekerja di surat kabar nasional salah dalam membuat berita dan harus membuat ralat (walaupun kecil) di terbitan hari berikutnya, itu namanya tidak profesional.
"Sayang, kamu duduk di kursi itu aja, oke."
"Enggak mau."
"Iya. Tapi jangan ganggu ya." Kata Paijo sambil kembali mendongakkan kepalanya. Mmmmuahhh.
"Tuh... katanya nggak mau diganggu. Kok malah ngasih."
"Biar semangat..."
Mata dan jemari Paijo kembali dicurahkan untuk huruf-huruf, sementara telinganya masih saja merasakan kehangatan desah nafas Minah.
"Mas, padahal waktu Mbak Sri pulang kampung kemarin, dia cerita banyak tentang kita pada Emak. Dia bilang aku sudah punya pacar orang kantoran. Wartawan lagi..."
"Aduh... Kurang ajar juga Mbak Sri. Wartawan apa... Wartawan tempe... wartawan bodrex," Paijo ketawa keras.
"Lha mas sendirikan yang pernah bilang begitu pada Mbak Sri. Salah sendiri... makanya jadi orang jangan sok ngaku-ngaku. Tukang kebon kok ngaku wartawan..."
"Lha ini lagi ngetik berita... apa coba namanya kalau bukan wartawan. Waktu itu kan aku cuma bercanda. Emang gampang jadi wartawan, harus punya titel sarjana tahu… Lha Mas Paijo-mu ini kan cuma lulusan SMP. Ah, harusnya mbak Sri nggak ngomong gitu sama Emak kamu. Nanti jadi salah paham, kemudian minta macem-macem; nanggap orkes dangdut lah, layar tancep lah. Jadi takut aja mau ngelamar kamu."
"Enggak bakal deh. Nanti aku bilang yang sebenarnya. Tapi nanti bilangannya jadi tukang ketik aja ya. Jangan tukang kebon. Jaim dikit kenapa..."
"Ya, terserah kamu deh."
"Tapi kepastiannya harus jelas, jangan janji-janji melulu, kayak pejabat. Bosan tahu..."
"Iya... aku kan sudah janji mau ngelamar kamu. Tapi nanti kalau duitnya sudah cukup."
"Tapi kapan ngumpulnya. Dari dulu juga bilang begitu. Lama-lama aku jadi ragu sama kesungguhan cinta Mas Paijo. Bukankah dalam cinta ada pengorbanan dan perjuangan? Masalah rejeki bisa kita cari sama-sama..."
“Iya, nanti aku bicarakan dengan orang tuaku biar bisa cepat-cepat. Tapi jangan mahal-mahal ya, sebab sebaik-sebaiknya perempuan adalah yang cantik parasnya dan murah maharnya.”
“Iiiih… maunya.”
“Lho, itu dari Hadist Nabi… aku pernah membacanya di buku.”
“Iya… iya. Paling-paling cuma sepuluh gram.”
“Busyet… mahal amat.”
“Ya, udah, lima gram saja tapi ditambah satu juta.”
“He… itu sama saja, malah lebih mahal.”
“Enggak bercanda kok… yang penting Mas Paijo mau bersungguh-sungguh, itu saja sudah membuat hati Minah senang dan bahagia…”
Telepon berdering. Percakapan itu kembali terganggu.
"Tuh kan. Aku bilang juga apa. Pasti dari Ibu." Paijo mengangkat gagang telepon.
"Hallo, selamat malam?"
"Gimana perkembangannya?"
"Tinggal setengah halaman lagi, bu."
"Ya, udah, cepat ya. Jangan sampai mepet jam delapan lho.'
"Ya, bu."
Ah, enak juga ya jadi wartawan. Dulu dalam benak Paijo, wartawan itu orang yang siang malam pontang-panting mencari berita, keluar masuk gang, menyusuri lorong-lorong gelap dengan segala resiko. Pokoknya kejar berita sampai di ketiak manapun dia bersembunyi. Tapi sekarang, pikiran Paijo sedikit banyak berubah. Menjadi wartawan seperti Ibu, ternyata sangat menyenangkan. Setiap saat ada saja undangan liputan ini – itu, berita seperti datang begitu saja kemudian tinggal meluncur saja, parkir mobil, duduk manis, membaca press release, mendengarkan orang pidato, makan-makan dan dapat uang transport. Pulang tinggal merangkai kata dan menelpon: “Maaf Jo, bisa minta tolong ketikin nggak…..”.
"Gini, kalau Ibu lagi dikejar deadline, yang dikejar-kejar kok malah aku. Jadi ikutan pusing. Emang mau ke mana lagi sih? Paling-paling ngobyek jual proposal, kan wartawan bisa dekat sama pejabat dan orang-orang yang punya duit. Mentang-mentang bisa ngetik cepat, lalu seenaknya saja diperdayakan. Mending kalau dapat bonus atau paling tidak uang kopi lah"
"Namanya juga boss, kalau dia mau ngasih ya alhamdullillah, kalau tidak ya sudah, relain saja. Jangan ngomel begitu dong…, yang sabar saja ya…”
“Sabar sih sabar, tapi kalau berkali-kali kan lama-lama eneg juga…”
“Udahlah, barangkali memang bukan rejeki yang menjadi milik Mas Paijo… nanti juga ada rejeki yang tak terduga-duga. Bukankah kata ulama, Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar "
"Ya, semoga saja… Tapi lumayan juga, pengetahuan jadi tambah banyak. Ini namanya tukang kebon intelek. In artinya di dalam, telek itu artinya taik...."
Keduanya ketawa ngakak. Tak beberapa lama kemudian, telepon kembali berdering.
"Ini sudah hampir selesai bu. Tinggal tiga kalimat saja. Sebentar lagi saya kirim lewat email."
"Ya, sudah. Cepat ya. Sudah hampir jam delapan lho."
Paijo segera menyimpan file tersebut dan langsung membuka internet. Lumayan lelet juga pentium satu ini. Kasihan dikau, sudah zaman pentium empat kok masih diberdayakan. Hampir memakan waktu lima menit, file baru bisa terkirim. Jam di komputer menunjukkan pukul delapan kurang tujuh menit.
Jemari Paijo memencet nomor telepon sementara kedua tangan Minah terus mendekap leher Paijo. Nggak bosan-bosannya sih.
"Maaf bu, filenya sudah saya kirim".
“Ya, udah sebentar lagi Ibu buka. Terima kasih ya, Jo…”
Gagang telepon ditutup. Paijo menarik nafas lega.
"Sudah beres sayang." katanya sambil mendongakkan kepalanya. Kembali mereka berciuman mesra. Kali ini sangat lama. Mmmuuaahhh.
--- oOo ---

paDEPOKan – Juni 2004

Deadline!

DEADLINE!
-------------------------
Dimuat dalam Majalah Femina

“Hallo... Sayang. Maaf ya, aku langsung menuju ke Puncak. Kemungkinan menginap selama dua hari di sana. Ada rapat mendadak..., biasa konsolidasi partai..., pembentukan Tim Sukses Boss sebagai calon RI-1. Aku harus ikut, setor muka lah... Kalau nggak nanti tidak kebagian jatah... Oh ya, Bayu agak hangat kepalanya, tolong ingatkan Surti untuk kasih obat, kalau perlu bawa ke rumah sakit saja... udah ya, makasih”
“Ya udah, hati-hati saja... “
Begitulah, kalau sudah urusan partai siapa yang bisa mencegah Mas Heru. HandPhone-ku berdering lagi. Satu nama muncul di layar. Medi, Koordinator Redaksi-ku. Gawat.
“Kok belum kirim juga. Tinggal tiga puluh menit lagi lho... “
“Maaf, internet di rumah lagi ngadat... Nggak tahu nih kenapa. Tunggu sebentar aku mau cari warnet.” Aku mencoba berkilah.
“Cepat... Ya. Jangan molor lagi. Nanti diisi yang lain lho...”
Gila! Ini baru benar-benar Deadline! Surti, pembantu rumah tanggaku, mendadak juga harus pulang kampung sore tadi. Ada interlokal yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras. Jadi, tak ada alasan untuk menahannya. Aku sendiri sudah mengiyakan, ketika suara di ujung telepon sana terdengar begitu menghiba memohonkan ijin untuk Surti. Semoga ini bukan akal-akalan Tejo, pacar Surti, tukang kebon tetangga satu komplek.
Seperti kesetanan tangan-tanganku menyusuri tombol-tombol keyboard. Harus secepat mungkin dan segera mengirimnya ke redaksi. Ya, sebelum Bayu terbangun, sebab kalau dia sudah terbangun aku harus menghentikan segala aktivitas di depan komputer atau Bayu akan mengacaukannya. Tangan-tangannya anakku yang hampir empat tahun itu selalu mengerayangi apa saja; tombol keyboard, mouse, pesawat telepon bahkan ia tak segan-segan mengobrak-abrik tumpukan kertas atau menangis keras-keras untuk menarik perhatian.
Kalau saja Mas Heru, suamiku tidak ada acara mendadak. Pasti kepulangan Surti tak akan pernah menjadi masalah besar. Selama ini, setiap kali Surti ada rencana keluar rumah, ia harus menyesuaikan dengan jadwal kegiatan dan kesediaan Mas Heru. Kalau Mas Heru sedang tidak ada kegiatan dan mengiyakan berarti lampu hijau, jika sebaliknya maka jangan harap. Sekali lagi, jangan harap!
Ya, Mas Heru bisa begitu sabar menghadapi si kecil. Mulai dari memandikannya, menyuapi, mengajak bermain sampai membujuknya untuk bobok siang. Semuanya akan beres di tangannya. Kesabarannya menghadapi Bayu memang harus diacungi jempol. Apalagi untuk kegiatan menyuapi si kecil, sepiring makanan paling sedikit menghabiskan waktu satu jam keliling komplek perumahan sambil mendorong si kecil memakai sepeda roda tiga miliknya. Tak peduli pagi, siang atau sore, seolah itu telah menjadi syarat khusus yang harus dipenuhi bagi si kecil kalau tidak jangan harap ia mau membuka mulutnya.
Dan sekarang? Semua harus aku tangani sendiri. Oh, tidak! HandPhone berbunyi lagi. Pasti dari Medi. Tinggal lima menit. Ku klik Icon Internet Explorer... cukup lama juga. Pentium I ini lambat benar seperti siput... Hayo cepat ter-connect sayang. Benar-benar sial! Kulihat Bayu yang tidur di ranjang mulai resah dan sedikit membuka mata. Tenang sayang, tenang sayang, bobok lagi ya... Sebentar lagi Bayu pasti menangis karena aku tidak ada disampingnya. Cepat-cepat.... Mana tombol Compose... Attach... dan untung saja Send sudah ter-klik bersamaan dengan jeritan keras Bayu.
Benar-benar deadline! Aku menarik nafas panjang dan bergegas menghampiri Bayu. Segera kugendong dia, kemudian tergesa menyambar Laptop, berkas-berkas Press Release dan kunci mobil KIA Visto. Sayang... kita ke rumah nenek saja.
---oOo---

Dia bukan anak dari rahimku!
Ketukan yang terdengar begitu lemah pagi hari itu adalah pintu yang membawa Bayu memasuki kehidupan keluargaku. Bayu memang bukan kiriman gelap yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu rumah, dalam keranjang bayi ditemani sepucuk surat seperti dalam dongeng klasik di langit kanak-kanakku. Ya, karena wajah Nurul, teman akrab SMA-ku sewaktu di kampung dulu, menyergap begitu kubukakan pintu.
“Ini anakmu ya… Aduh cakep sekali. Ayo masuk nggak usah malu-malu. Bagaimana kabar kamu dan Mas Yanto-mu. Baik-baik saja kan”, begitu sambutanku ketika mempersilakannya masuk. Tapi sambutan yang heboh itu seperti menabrak sebuah dinding kebisuan. Aku mendengar suara isak yang tertahan dari mulut Nurul, kemudian meledak dalam pelukanku.
Akhirnya semua terungkap, Mas Yanto yang selama ini kupandang sebagai lelaki baik dan bertanggungjawab, ternyata tak lebih dari lelaki brengsek. Dia meninggalkan Nurul begitu saja. Bahkan ketika Bayu belum genap satu tahun. Pekerjaan Mas Yanto sebagai Mandor bangunan menyebabkan dia sering pergi ke luar kota. Nurul biasanya ditinggalkan di kampung, karena orang tua Nurul yang sudah uzur dan Mas Yanto katanya nggak tega membawa Nurul dalam kehidupan yang selalu berpindah-pindah.
Tapi selama ini, sepengakuan Nurul, Mas Yanto selalu pulang tiap dua minggu sekali, kalaupun tidak, kiriman weselpun tak pernah terlambat. Terakhir kali, katanya Mas Yanto ada pekerjaan di Jakarta, tapi sudah empat bulan tidak ada kabar berita. Maka Nurul berinisiatif untuk menyusulnya, setelah mencari ke kampung halaman Mas Yanto, ternyata tidak ada yang mengetahui keberadaan terakhirnya.
Begitulah, akhirnya kuijinkan Nurul tinggal dirumahku. Aku benar-benar nggak tega membiarkan dia berjalan tak tentu arah. Nurul memang tidak punya kerabat di Jakarta. Hanya alamat rumahku yang dia bawa. Ah, bagaimana bisa mencari Mas Yanto tanpa alamat yang jelas di Jakarta ini.
Maka, itulah awal pertama ada tangis bayi di rumahku. Tangis yang sebenarnya sangat-sangat aku rindukan. Mengapa bukan tangis dari anak yang sekian lama kami nantikan. Kenapa tangis itu adalah milik Bayu, anak Nurul, sahabatku. Bayu, bagaimanapun juga...
Dia bukan anak dari rahimku!
Kepedulian yang mengetuk pintu hati Mas Heru adalah gerbang yang membawa Bayu menjadi bagian kehidupan keluargaku. Entah mengapa Mas Heru bisa begitu lengket dengan Bayu. Kalau Nurul sedang pergi kemudian menitipkan Bayu pada Surti, Mas Heru bisa berlama-lama mengendongnya. Ada perasaan aneh yang menyesakkan dada menyaksikan semua itu. Bukannya aku tak peduli pada penderitaan Nurul. Ya, aku ingin juga menolongnya. Menolong sahabat karibku. Memberinya tempat berteduh dan membantu mencari Mas Yanto yang brengsek itu.
Tapi, Mas Heru menginginkan lebih. Ia ingin memungut Bayu sebagai anak. Ya, anak sah! Nurul sendiri sudah ikhlas melepaskan Bayu, karena tanpa Mas Yanto, dia merasa tidak bisa menghidupi Bayu sendirian. Tidak, tidak bisa! Bayu adalah tetap Bayu, anak Nurul sahabatku. Aku memang respek dan mau peduli dengan penderitaannya. Aku hanya ingin menolongnya. Tak lebih dari itu.
Rupanya Bayu memang benar-benar telah singgah di hati Mas Heru. Berulang kali ia membicarakan masalah ini. Sampai akhirnya aku luluh. Aku tak tega melihat Mas Heru merengek begitu. Aku tak boleh egois, aku harus sadar dengan kenyataan bahwa sekian lama aku tidak bisa memberi Mas Heru keturunan. Aku harus sadar dan memahami semua ini dengan jiwa yang ikhlas dan terbuka.
Aku tak bisa menceriterakan bagaimana perasaan bahagia yang terpancar dari wajah Mas Heru begitu mendengar mengiyakan untuk mengambil Bayu sebagai anak. Esoknya Mas Heru sibuk mengurus tetek bengek yang berhubungan masalah administrasi keabsahan Bayu sebagai anak kami. Pokoknya Mas Heru menghendaki hitam di atas putih, katanya agar tidak ada masalah di kelak kemudian hari. Aku tak begitu paham dengan hal-hal seperti itu. Bagiku keikhlasan dan kerelaan Nurul untuk melepas Bayu itu sudah lebih dari cukup.
Entah siapa dari kami bermasalah. Dari pemeriksaan ke beberapa klinik, tidak ada masalah di antara kami berdua. Berbagai carapun telah kami tempuh, konsultasi ke sana kemari, terapi ini itu, beberapa pengobatan dari tradisional sampai modern. Pokoknya segala macam cara. Apakah karena aktivitas kami yang begitu padat, hingga kehidupan keluarga yang kami bina mengalami semacam stress. Aku yang terus menerus dikejar deadline, liputan ini-itu, segala macam press release, tugas ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Maka, begitu sampai di rumah aku selalu ambruk di ranjang dan tahu-tahu sudah pagi lagi dan pekerjaan mengejarku lagi.
Mas Heru sendiri, walaupun kegiatan di partainya tidak begitu memerlukan waktu yang banyak, tapi dia punya banyak bisnis sampingan dengan teman-temannya. Jadi praktis, kami terlalu sering kelelahan begitu sampai di rumah. Atas saran dari dokter pribadiku, kami pernah mengambil cuti panjang, tetapi ternyata hasilnya sama saja. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang berdenyut dalam rahimku.
Apakah sebenarnya aku memang tak bisa punya anak atau rahimku tak pernah menyediakan waktu dan tempat yang aman bagi embrio untuk tumbuh dan berkembang. Ataukah ini suatu cobaan dari Tuhan, untuk menguji seberapa besar cinta kami dan seberapa lama kami bisa bertahan? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.
Menurut Mas Heru, Bayu bisa sebagai pancingan agar kami bisa memperoleh keturunan. Adat dari Kampung Mas Heru mengatakan demikian... Seringkali sebuah keluarga yang sekian lama tidak memperoleh keturunan, sengaja memungut anak untuk memancing agar mendapatkan keturunan. Daripada memungut anak dari Panti Asuhan yang belum tentu jelas asal-usulnya, lebih baik memungut Bayu, yang orang tuanya sudah kita kenal dengan sangat baik. Banyak yang berhasil, kata Mas Heru. Semoga saja.
Tapi, sudah empat tahun berlalu. Kami tak juga mendapatkan seorang bayi mungil. Sebagaimana Nurul tak juga menemukan Mas Yanto. Tapi kabar terakhir dari Nurul mengatakan bahwa dia sudah menikah lagi dengan Mas Eko, Juragan Batik dari kota Solo. Bahkan, katanya sekarang sudah hamil 3 bulan.
Ah, gampang sekali dia punya anak. Nurul dan teman-teman sekampungku yang memilih menikah setelah lulus SMA (sekarang SMU), bahkan ada yang sudah punya anak lima. Tapi mengapa aku dan Mas Heru begitu kesulitan untuk mendapatkannya. Apakah ini sebagai timbal balik atas karirku yang kian menanjak, tapi kulihat banyak juga wanita karier yang mempunyai beberapa orang anak.
Memang di satu sisi aku bisa menikmati kesuksesan ini. Tapi di satu sisi ada banyak hal membuat hidupku terasa kosong dan gamang. Aku juga seorang wanita. Aku rindu membelai buah hati. Aku juga ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku bisa mengandung dan melahirkan anak.
--- oOo ---

Pukul 22:00 malam. Semakin lama, AC Press Room ini terasa semakin kurang dingin. Pesawat telepon sudah sejak pukul tujuh malam tadi tidak bisa digunakan untuk komunikasi ke luar. Satu bentuk penghematan yang sangat-sangat nyata di lembaga pemerintahan. Kuselesaikan tugasku membuat laporan panjang tentang rencana pemberlakuan Undang-undang Bioterorisme, daripada pulang dan terganggu oleh Bayu. Tapi lama-kelamaan laporanku terganggu juga oleh teror nyamuk-nyamuk dan beberapa kecoa yang beterbangan. Bagaimana mereka bisa berkeliaran begitu bebas di gedung yang begitu megah ini? Belum lagi bau tak sedap yang semakin menusuk hidungku. Kata Humas, di belakang tembok ini terdapat saluran air dari kamar mandi dan WC. Pantas saja.
Sesekali kulihat Satpam melongok melalui pintu yang sengaja kubuka. Kuatir amat sih. Ini kan Press Room, semua wartawan bebas menggunakannya tanpa ada batasan waktu. Tapi lama kelamaan risih juga. Aku mungkin satu-satunya wanita yang masih ada di gedung ini. Akhirnya aku menyerah juga. Kuberesi berkas-berkas Press Release dan Laptop kesayanganku. Sudah malam. Pasti Bayu sudah tidur pulas dan aku bisa leluasa meneruskan laporanku.
Begitu keluar dari gedung jangkung itu, lampu merah langsung menyergapku. Malam ini terasa dingin dan lengang sekali. Hanya beberapa mobil saja yang masih melintas.
Tiba-tiba ada ketukan kecil pintu kaca jendela mobilku. Seorang anak perempuan lusuh membawa bebunyian dari beberapa tutup botol yang dipakukan dalam potongan kayu. Malam begini masih ngamen? Kulihat dia juga mengendong sesuatu dengan kain yang tak kalah lusuhnya. Bukan boneka pasti, karena tangannya kulihat bergerak-gerak. Pintu kaca segara kuturunkan, ada tangis yang tiba-tiba kudengar. Beberapa uang recehan yang ada di dashboard segera kuberikan kepadanya. Lampu hijau tak ada memberi kesempatan untuk sebuah pertanyaan.
Malam-malam begini. Kemana Bapak dan Ibu mereka? Mengawasi mereka dari kejauhan? Gila! Kalau memang begitu. Atau sudah meninggal? Lalu anak siapa bayi itu? Adiknyakah? Atau anak sendiri? Ah, tak mungkin kalau anak seusia dia bisa melahirkan. Harusnya mereka terlelap dalam dekapan hangat kasih-sayang orang tua. Bukan turun ke jalan-jalan menantang bahaya. Apakah karena siang sudah begitu banyak saingan yang mencari makan di lampu merah, hingga dia tersisih ke sisi malam? Tidak akan kubiarkan anak-anakku berkeliaran seperti mereka. Anakku? Bayu?
Ups! Ternyata ada banyak yang terlewatkan hari ini. Terlewatkan atau terlupa. Gila! Bukankah tadi sore Mas Heru sudah mengingatkan untuk tidak pulang larut malam, bahkan suara Bayu yang sudah mulai pandai merangkai kata ikut-ikutan mengingatkan juga. “Mama, Bayu ulang tahun. Nanti malam teman-teman mau ke sini. Mama cepat pulang ya.”
Gila! Kenapa juga aku lupa. Lupa atau sengaja lupa? Entahlah, yang jelas HP-ku memang sengaja kumatikan. Mas Heru jelas nggak tahu keberadaanku di mana. Betul juga. Begitu kunyalakan, sederetan SMS masuk seperti mengetuk pintu kesadaranku. Semuanya dari Mas Heru.
“Kamu ada di mana sih? Kok HP dimatikan. Bayu sudah ngambek tuh!”
Bahkan untuk ulang tahun Bayu saja aku tidak bisa meluangkan waktu. Apakah aku tak lebih dari orang tua anak perempuan pengamen tadi? Empat tahun, apakah selamanya hatiku menjadi batu? Gila! Bahkan hadiah ulang tahunpun aku belum menyiapkannya.
O.. ya. Beliin apa, ya? Boneka Teletubbiest? Bukankah hampir tiap hari dia menontonnya? Warna apa ya? Hijau, kuning dan warna lainnya.... Yang lainnya warna apa ya? Lala, Poo..., siapa lagi ya? Kalau nggak salah tokoh Teletubbiest ada empat. Atau mobil-mobilan saja? Kapal terbang? Boneka beruang Pooh? Tapi Bayu laki-laki, masa dibelikan boneka. Atau komik Kapten Tsubasa? Beberapa hari ini Bayu minta dipanggil dengan nama Kapten Tsubasa? Atau buku mewarnai saja, bukankah Mas Heru bermaksud memasukkan Bayu ke Taman Kanak-Kanak? Taman Kanak-Kanak mana ya, yang dibicarakan Mas Heru?
Gila! Ternyata begitu banyak hal yang nggak aku tahu tentang Bayu. Semua aku serahkan pada Surti dan Mas Heru. Ah, harusnya aku lebih memperhatikannya. Dia juga anugerah dari Tuhan untuk keluarga kami. Mengapa aku tidak bisa memelihara dan menjaga amanah itu? Bagaimana doa-doaku kepada-Nya (bahkan seringkali sampai menangis segala) agar mendapatkan keturunan bisa dikabulkan, sementara amanat yang dititipkan-Nya kepada keluarga kami tak pernah bisa aku pelihara. Aku benar-benar egois selama ini.
Tiba-tiba aku ingin sekali mendekap Bayu, menciuminya sepuas-puasnya. Maafkan Mama, Nak! Selama ini Mama begitu mengabaikanmu. Malam semakin merambat naik. Jalanan begitu lengang. Kupacu mobilku dalam kecepatan tinggi. Aku yakin Mas Heru dan Bayu masih menantiku. Semoga aku tidak terlambat.
Ini baru benar-benar deadline!.
--- oOo ---
Depok, 09 Agustus 2003